Sabtu, 12 Februari 2011

Bayang di Cermin Buram

Bayang di Cermin Buram



�
Balonku adalima , rupa-rupa warnanya.

Merah, kuning, kelabu, hijau muda dan biru.

Meletus balon hijau�DHUAR !�Hatiku sangat kacau.

Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat.

Pagi ini, seharusnyasama seperti pagi lainnya.�Aku berangkat ke sekolah dengan terburu-buru, karena lagi-lagi aku terlambat bangun.�Ibu memarahiku, dan minta agar aku mengubah kebiasaan burukku itu.�Dengan setengah enggan, aku meng-iya-kan, lalu mengambil sepeda dan berangkat.�Tidak ada yang aneh, semua berlangsung seperti pagi hari-hari sebelumnya.

Tetapi�

Ketika sedang melewati perempatan jalan yang ramai, tiba-tiba aku merasa sekelilingku menjadi sangat sunyi.�Dan pada saat itulah, aku mendengar seseorang memanggilku dengan sebuahnama asing, �Rani��

Suara klakson yang memekakkan telinga, membuatku kembali tersadar; Aku sedang terbengong di atas sepedaku tepat di tengah-tengah perempatan jalan, dan sebuah mobil van dengan kecepatan tinggi sedang menuju tepat kearahku !�Akibat terkejut, sekujur tubuhku terasa lemas, dan aku tidak dapat bergerak.

�Seseorang, tolong� tolonglahaku !�

Pada saat yang kritis, seseorang melompat dan mendorongku, �Awas,bahaya !�

�

Tubuhku terguling dan kakiku menabrak lampu lalu lintas, sehingga terkilir.�Walau demikian, aku selamat.�Aku mendengar jeritan dari orang-orang di sekelilingku, dan ketika aku melihat tempatku tadi berada, aku melihat sebuah pemandangan yang mengerikan; Darah memenuhi seluruh jalan, dan tubuh orang yang tadi menolongku tergeletak di tengah jalan merenggang nyawa.�Dengan tertatih-tatih aku mendekat, dan melihat bahwa orang itu masih hidup.

�

�Tolong, panggilambulans !�Dia..dia masih hidup !�Cepatlah !�

�

Maka pagi inipun menjadi berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, tetapi ini hanyalah suatu awal.

�

�

�

�Mira, tolong sampaikan pada guru, aku tidak bisa datang ke sekolah, karena seseorang mengalami kecelakaan untuk menolongku ... Aku baik-baik saja, tetapi aku tidak bisa meninggalkan orang itu begitu sajakhan ? ...Sekarang aku ada di Rumah Sakit Umum Pusat ... Iya, bye.�

�

Aku memutuskan hubungan telepon selularku dengan Mira, teman sekelasku.�Saat ini aku sedang duduk di bangku panjang di lorong Rumah Sakit Umum Pusat, tepat di depan kamar operasi tempat para dokter berusaha mempertahankan nyawa orang yang menolongku.

�

�Aku selamat, tetapi sebagai gantiku, orang itu yang berada di ambang hidup dan mati.

�

Tuhan, tolong, selamatkanlah penolongku itu.�

�

Tiba-tiba lampu kamar operasi mati.�Perasaanku langsung menjadi tegang.�Ketika dokter keluar dari ruang itu, aku segera bangkit berdiri lalu bertanya, �Dokter, bagaimana keadaan orang itu ?�Apakah ia selamat ?�

�

Dokter memperhatikanku, lalu bertanya, �Apakah kamu kerabatnya ?�

�

�Bukan, tetapi aku adalah.. orang yang telah diselamatkan olehnya.�Tolong katakan padaku dokter, apakah dokter berhasil menolongnya ?�

�

Dokter menarik nafas panjang, �Ia masih hidup, kalau itu maksudmu.�Tetapi...�

�

�Tetapi apa, dokter ?�, aku mulai merasa tidak sabar.

�

�Tetapi, mungkin ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya.�

�

Seketika itu pula, kakiku terasa lemas, dan aku jatuh berlutut.�Lalu aku memegang bagian bawah jas dokter.

�

�Dokter, apa benar ia akan lumpuh ?�Apa dokter tidak bisa menyembuhkannya ?�Apa tak ada cara agar ia bisa segera pulih ?!�, suaraku semakin meninggi akibat merasa putus asa.

�

Dokter memandangku penuh rasa iba.

�

�Aku bisa memahami perasaanmu.�Aku akan berusaha semampuku untuk menyembuhkannya, tetapi maaf, aku tidak bisa menjanjikan apapun.�

�

Setelah berkata demikian, dokter berjalan pergi meninggalkanku, yang masih berlutut sambil memandang ke arah pintu kamar dengan pandangan hampa.

�

�

�

Hari sudah siang, dan jam dinding menunjukkan Pk 14.00�Pemuda yang telah menolongku itu telah dipindahkan ke kamar perawatan, dan aku terus mendampinginya.�Aku memandang keluar jendela.

�

�Saat ini, sekolah pasti telah bubar.�Jika tidak ada kejadian ini, pasti aku sedang berjalan keluar sekolah bersama dengan Mira dan teman lainnya, sambil mengobrol dan tertawa.�

�

Lalu aku menengok ke arah pemuda tersebut.

�

�Mengapa ?�Mengapa semua ini harus terjadi ?

�

�Apa yang dapat kulakukan untuk menolongnya ?�

�

Tiba-tiba pintu terbuka, dan seorang gadis manis dikuncir satu memakai seragam sekolah, berlari masuk sambil menjerit, �Kakak !�

�

Ketika melihat kondisi pemuda tersebut, air matanya mulai mengalir.

�

�Ini.. ini tidak mungkin khan ?�Kak Victor khan orang paling kuat, semua ini sangat tidak sesuai untuk kakak !�

�

Sambil menunduk aku berkata, �Maaf, karena demi menolongku, kakakmu jadi seperti ini.�Maafkan aku.�

�

Gadis itu berjalan mendekat.

�

�Kamu ya ?�Kamu yang telah menyebabkan Kak Victor menjadi seperti itu ?!�, tiba-tiba sebuah tamparan keras menghantam pipiku, �Aku takkan memaafkanmu !�Keluar, keluar dari kamar ini !�Aku tidak ingin melihatmu.�

�

Aku tertegun sesaat karena terkejut, lalu aku bangkit dan keluar dari kamar itu.�Sebelum menutup pintu, aku berkata, �Kuharap kakakmu segera pulih.�

�

Aku terduduk lemas di ruang tunggu sambil menunduk.

�

�Ia memang berhak marah dan membenciku.

�

Selama ini aku selalu saja bersikap cuek dan tak acuh, serta menganggap enteng semua masalah.

�

Apakah ini hukuman untukku ?�

�

Tiba-tiba telepon selularku berdering.�Rupanya Mira sudah berada di depan Rumah Sakit Umum Pusat.�Ketika sampai di ruang tunggu, Mira bertanya, �Mengapa kamu ada disini ?�Bukankah kamu bilang ingin mendampingi orang itu ?�

�

�Tadi adiknya datang.�Ia berkata bahwa ia tidak akan memaafkanku, lalu mengusirku keluar.�

�

�Eeh ?!�Tapi, itu khan bukan salahmu, itu kecelakaan !�Dia tidak bisa seenaknya menyalahkanmu begitu dong !�

�

�Tidak, mungkin apa yang dikatakannya ada benarnya.�Kecelakaan itu terjadi karena aku sedang melamun, jadi wajar jika ia menyalahkanku.�

�

�Te.. tetapi...�

�

�Mira, sudahlah.�Aku akan tetap menunggunya, sampai ia sadar.�Aku senang kamu datang, Mira.�

�

Mira menghela nafas, lalu berkata, �Kalau begitu, aku akan beli makanan.�Kamu belum makan siang khan ?�

�

�

�

�Rani...�, suara itu kembali kudengar.�Begitu sunyi dan kelam.

�

�Dimanakah ini ?�Dan.. siapa yang memanggil itu ?�

�

�Rani... Rani...�, berulang-ulang suara itu bergema di kepalaku, sampai akhirnya, �Rauny !�Hey Rauny, sadarlah !�

�

Tiba-tiba aku melihat Mira sedang memegang bahuku, dan mengguncangkan tubuhku dengan keras.

�

�Eh.. Mi.. Mira, a.. apa yang terjadi.. padaku ?�

�

�Justru seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu !�Dari tadi kamu diam saja, padahal sudah berulang kali kupanggil !�Aku sangat khawatir tahu ?!�

�

�Ma.. maaf.�Tadi setelah kamu pergi, tiba-tiba saja di sekelilingku terasa begitu sunyi.�Aku tak dapat mendengar suara apapun juga, lalu kemudian segalanya menjadi gelap dan dingin.�

�

Mira memukul kepalaku dengan lembut, �Kamu ini !�Jangan mimpi di siang hari seperti ini dong !�

�

Aku langsung menggelengkan kepala dengan keras, �Tidak Mira, ini bukan mimpi !�Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku juga mengalami hal ini !�Kurasa, ada hal yang aneh pada diriku.�

�

Mira menatapku dalam-dalam, lalu akhirnya mengambil makanan yang ditaruhnya di bangku, dan memberikannya padaku.

�

�Sudahlah, yang terpenting sekarang, kamu harus makan dulu.�

�

�Mira, kamu.. nggak percaya padaku khan ?�

�

Mira tersenyum sambil memandang ke arah langit-langit rumah sakit, �Memang benar, aku nggak mudah percaya pada hal-hal aneh seperti itu, tetapi aku yakin kamu tidak berbohong, Rauny.�

�

Aku-pun ikut tersenyum, �Terima kasih.�

�

�

�

Matahari sudah terbenam, sementara pemuda itu masih belum sadar.

�

�Rauny, apa kamu masih berniat untuk terus menunggu hingga ia sadar ?�Belum tentu ia sadar hari ini.�Mungkin besok, lusa, minggu depan, bahkan tidak tertutup kemungkinan, ia tidak pernah sadar lagi.�

�

Aku menunduk, �Aku tahu itu, Mira.�Tetapi ia telah menolongku, menyelamatkan jiwaku !�Aku... pokoknya aku merasa, tidak bisa pergi meninggalkannya begitu saja !�

�

Mira menghela nafas dengan kesal, �Terserahlah !�Tetapi maaf, aku tidak bisa terus menemanimu.�Masih banyak hal lain yang lebih penting bagiku, daripada menunggu sesuatu yang tidak pasti !�

�

Aku memandang ke arah Mira, lalu mengangguk.

�

�Aku mengerti.�Terima kasih.�

�

Mira mengangkat bahu, lalu pergi.�Menit demi menit terus berlalu, sementara rumah sakit semakin sepi.�Kebanyakan para pengunjung sudah pulang.�Akhirnya aku memberanikan diri, dan pergi lagi ke kamar tempat penyelamatku itu dirawat.�Dari balik pintu, aku mendengar sebuah nyanyian, yang dinyanyikan oleh gadis berseragam sekolah tadi; Sebuah nyanyian anak-anak.

�

�Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya.

�

Merah, kuning, kelabu, hijau muda dan biru.

�

Meletus balon hijau� DHUAR !�Hatiku sangat kacau.

Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat.�

Entah mengapa, ketika aku mendengar nyanyian tersebut, tiba-tiba timbul sebuah perasaan yang sangat hangat, dan aku merasa sangat rindu dengan lagu itu.

�Kak Victor, dulu ketika aku masih kecil, aku sangat suka dengan lagu tersebut.�Dan kakak selalu menyanyikannya untuk kami sebagai lagu pengantar tidur.�Walau kadang merasa kesepian, tetapi lagu itu benar-benar menghibur kami berempat, karena kami sadar, masih ada orang yang memperhatikan kami.�, tiba-tiba terdengar isak tangis, �Maka dari itu Kak Victor, cepatlah sadar.Kalau kakak tidak ada, apa yang harus kulakukan ?!�

Mendengar kata-kata gadis itu, aku termenung.

�Bagi gadis itu, pemuda itu adalah segala-galanya.�Dan.. aku telah menyebabkan dia kecelakaan.

Oh Tuhan, apa yang telah kulakukan ?!�

Tiba-tiba tasku terjatuh.

�Siapa itu ?!�


Aku membuka pintu, �Maaf, aku benar-benar minta maaf.�Kakakmu pastilah orang yang sangat baik, dan aku.. telah menyebabkan ia kecelakaan.�

�

�Mengapa kamu masih ada disini ?�

�

�Aku tidak bisa pergi begitu saja !�Aku sadar, kejadian ini akibat kesalahanku.�Maka dari itu, aku tidak bisa meninggalkannya !�Tolong, ijinkanlah aku menunggunya hingga sadar.�

�

Gadis itu memandangku dalam-dalam, lalu akhirnya ia menghela nafas.

�

�Seharusnya yang minta maaf itu aku.�Kakakku kecelakaan bukan karena kesalahanmu; Ia hanya ingin menolongmu.�Aku menyalahkanmu tadi, karena aku kebingungan.�Maafkan aku.�

�

Melihat gadis itu menunduk, aku merasa tidak enak.

�

�E.. eh, tidak apa-apa kok.�Kita sama-sama menunggu hingga kakakmu sadar ya ?�

�

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.

�

�Oh ya, maaf aku lupa memperkenalkan diri.�Aku Helen, dan nama kakakku adalah Kak Victor.�

�

Aku menerima jabat tangan gadis itu, �Namaku Rauny, senang berkenalan denganmu.�

�

Mendengar itu, Helen terkejut.�Bola mata indahnya terbelalak.

�

�Ra.. Rauny ?�Namamu.. Rauny ?�Itu.. mustahil !�

�

�

�

Aku memandang Helen dengan pandangan bertanya.�Tetapi kemudian Helen menggeleng.

�

�Ya, itu tidak mungkin.�Pasti hanya kebetulan saja.�

�

�Memangnya ada apa ?�

�

�Sebenarnya, sejak awal melihatmu, aku merasa kamu mirip dengan seseorang yang kukenal.�Dan namanya juga sama, Rauny.�Tetapi itu tidak mungkin.�

�

�Kenapa tidak mungkin ?�

�

�Karena...�, wajah Helen terlihat tegang sesaat, �Karena ia sudah meninggal !�Ya, ini pasti hanya kebetulan, tak mungkin ia hidup kembali.�

�

Aku memperhatikan Helen sejenak, lalu berkata, �Helen, bisakah kamu menceritakan mengenai temanmu itu ?�

�

�Eh, kenapa ?�

�

Lalu aku berjalan menuju jendela.

�

�Sejujurnya, aku tidak ingat masa laluku.�Orang tuaku yang sekarang, menolongku ketika terjadi sebuah kebakaran hebat di bekas tempat tinggalku dulu.�Karena terlalu shock, aku mengalami amnesia.�

�

Helen terpana memandangku, lalu perlahan air matanya mulai mengalir di pipinya.

�

�Kebakaran ?�Kalau begitu, kamu benar-benar.. Rauny yang kukenal ?�

�

Ia langsung memelukku, �Kamu tentunya tidak tahu, betapa inginnya aku bertemu lagi denganmu.�

�

�Eh tu.. tunggu !�Sudah kubilang kalau aku sama sekali tidak ingat masa laluku, jadi belum tentu aku adalah Rauny yang kau kenal.�Jadi tolong, ceritakanlah mengenai dia.�

�

Helen menghapus air matanya, lalu mengangguk.�Dan setelah duduk, ia-pun mulai bercerita...

�

�

�

�Sejak kecil aku yatim piatu, karena orang tuaku mengalami kecelakaan.�Itu sebabnya aku takut dan kebingungan, ketika mendengar Kak Victor mengalami kecelakaan.�Dalam kesedihan akibat kehilangan kedua orang tuaku secara mendadak, Kak Victor hadir dalam hidupku.�Ia adalah anak dari pemilik panti asuhan tempatku dan anak-anak lainnya dirawat.�Berkat Kak Victor, keceriaanku kembali, dan aku mulai bisa mengerti makna hidup.�Ia mengajarkan banyak hal kepada kami, dan menganggap kami sebagai adik-adiknya sendiri.�, lalu ia menengok ke arahku, �Rauny adalah teman dekatku di panti.�Kehidupan di panti memang menyenangkan, tetapi semua itu tidak berlangsung lama.�Pada suatu malam saat kami sedang tidur, tiba-tiba terjadi kebakaran.�Kak Victor dan ayahnya mati-matian berusaha menyelamatkan kami.�Tetapi ketika sedang menyelamatkan Rauny yang tertinggal, ayah Kak Victor terperangkap oleh api.�Usaha Kak Victor untuk menolong mereka sia-sia, dan akhirnya mereka dianggap meninggal.�Kehidupan kami setelah terjadinya kebakaran itu sangat sulit, dan akhirnya kami terpencar.�Kak Victor sangat sedih, karena merasa tak mampu menggantikan ayahnya untuk merawat kami.�Akhirnya hanya aku-lah satu-satunya orang yang masih berada di sisi Kak Victor.�

�

�Apa penyebab kebakaran tersebut ?�

�

Helen hanya mengangkat bahu, �Entahlah.�Menurut polisi, akibat api lilin, tetapi mereka juga tidak yakin.�

�

Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah Victor yang sedang terbaring.

�

�Apa aku benar-benar �Rauny� yang dikenal oleh mereka ?

�

Kalau benar, berarti sebenarnya aku adalah anak yatim piatu...�

�

Tiba-tiba aku terkejut, karena melihat bibir Victor bergerak.

�

�He.. Helen !�

�

�Ada apa ?�

�

�Kakakmu, dia.. sepertinya dia mulai sadar !�

�

�Eh benarkah ?�, lalu Helen menengok ke arah Victor dan mengguncangkan tubuhnya, �Kak Victor, apakah benar kakak sudah sadar ?�Tolong, jawablah kak !�

�

Mendengar Helen, aku teringat akan kata-kata dokter.

�

�Helen, tenang dulu !�Kondisi kakakmu bisa tambah parah kalau kamu mengguncangkannya seperti itu.�

�

Helen tertegun sejenak.

�

�Maaf, kamu benar.�, lalu Helen menggeleng, �Padahal Kak Victor selalu memperingatiku, agar jangan mudah terbawa emosi.�Tetapi benarkah Kak Victor sudah sadar ?�

�

�Entahlah.�Tadi sepertinya bibirnya bergerak, seperti ingin mengucapkan sesuatu.�

�

Helen tersenyum sambil menghenyakkan tubuhnya ke kursi, �Kalau begitu, kakak pasti segera pulih.�

�

Aku terdiam, memperhatikan Helen.�Akhirnya aku bertanya, �Helen, apakah kamu sudah berbicara dengan dokter ?�

�

�Belum.�Memangnya kenapa ?�

�

�Menurut dokter, ada kemungkinan kakakmu..�, aku merasa berat untuk melanjutkan kalimatku, �..lumpuh seumur hidup.�

�

Bola mata Helen terbelalak akibat terkejut.

�

�A.. Apa ?�Apa katamu ?�, Helen memandangku dengan bingung, seakan salah dengar, �Kamu.. bilang apa, Rauny ?�

�

Aku tidak dapat menjawab, hanya menunduk.

�

�Kak Victor.. akan lumpuh.. seumur hidup ?�, lalu gadis itu menggelengkan kepalanya keras-keras, �Tidak mungkin, aku tak percaya !�

�

Helen bangkit berdiri dan kembali mengguncangkan tubuh Victor, �Kak Victor, kumohon sadarlah !�Tolong katakan padaku, kalau kakak tidak mungkin lumpuh !�KAK VICTOR !!�

�

Lalu tubuh Helen-pun roboh; Ia jatuh pingsan.

�

�

�

�Tenanglah, ia cuma pingsan karena shock.�Tak lama pasti akan sadar lagi.�

�

Aku menghela nafas lega, lalu duduk di samping Helen.�Saat ini kami berada di ruang dokter, dan Helen dibaringkan di sebuah bangku panjang.

�

�Oh ya dokter, lalu bagaimana keadaan Kak Victor ?�

�

�Victor ?�Oh, maksudmu pemuda yang telah menolongmu itu ?�, lalu dokter menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, �Mungkin tadi kamu salah lihat.�Ia masih belum sadar kok.�

�

�Begitu ?�, aku menunduk dengan kecewa, �Padahal kuharap yang kulihat benar-benar nyata, tetapi ternyata hanya perasaanku saja.�

�

Dokter memperhatikanku sejenak, lalu berkata, �Nona Rauny, sebaiknya Anda pulang.�Kalau nanti pemuda itu sadar, kami akan segera memberi kabar pada Anda.�

�

�Te.. tetapi...�

�

�Anda tentunya tahu, orang yang mengalami koma tidak dapat diketahui kapan kesadarannya akan pulih.�Dan tidak mungkin Anda terus menerus menunggunya khan ?�Itu-pun jika kesadarannya pulih.�

�

Walau kesal, aku sadar bahwa apa yang dikatakan oleh dokter memang benar.�Akhirnya aku hanya bisa mengangguk.

�

�Tetapi setidaknya, ijinkan aku berada disini sampai Helen sadar.�

�

�Baiklah.�Tetapi maaf, aku masih harus bertugas lagi.�Tidak apa-apa khan, kalian kutinggal ?�

�

�Tidak apa-apa kok.�Terima kasih, dokter.�

�

Setelah itu, dokter tersebut keluar ruangan.�Di ruang itu, hanya tinggal aku bersama dengan Helen.�Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa sangat mengantuk.�Perlahan mataku mulai terpejam...

�

�Rani, mengapa kamu mencelakakanku ?�

�

�Siapa ?�Siapa yang bicara itu ?�

�

�Padahal aku selalu menyayangimu.�Mengapa ?!�

�

�Aku tidak mengenalmu.�Siapakah kamu ?�

�

Tiba-tiba tubuhku terguncang dengan keras, �Rauny !�

�

Ketika melihat sekelilingku, aku sangat terkejut.�Saat ini aku berada di ambang jendela ruang dokter dan hendak melompat, sementara Helen menahan tubuhku dari belakang.

�

�Rauny, apa kamu mau bunuh diri ?!�

�

Mendengar kata-kata Helen, perlahan-lahan aku turun dari jendela, dan berpegangan pada sebuah meja yang terletak di dekat jendela.�Sekujur tubuhku terasa lemas.

�

�Kamu ini kenapa, Rauny ?�Kamu tahu, tadi aku kaget sekali ketika sadar, melihatmu sudah hampir melompat keluar jendela !�

�

Aku berusaha menenangkan hatiku dan mengatur nafasku.

�

�Maaf Helen, tetapi sebenarnya, aku juga tidak sadar apa yang barusan kulakukan.�

�

Helen tertegun, �Eh ?�Apa maksudmu ?�

�

Aku duduk di bangku tempat Helen tadi berbaring.

�

�Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi yang pasti, ada sesuatu yang aneh dalam diriku.�Kecelakaan tadi pagi juga kejadiannya mirip dengan yang barusan.�Seperti ada seseorang.. yang terus menerus berbicara di dalam pikiranku.�

�

Helen memandangku dengan takut, �He..hey, kamu bercanda khan ?�Aku paling tidak suka dengan hal-hal aneh seperti itu.�

�

�Sayangnya, ini adalah kenyataan.�, lalu aku menarik nafas panjang, �Helen, terima kasih kamu telah menolongku.�Dan maaf, kurasa lebih baik aku pulang ke rumah.�Mungkin juga aku terlalu lelah, seperti kata dokter.�

�

Helen mengangguk, �Kalau begitu, kita pulang sama-sama ya ?�

�

�Eh, bukankah kamu hendak mendampingi kakakmu ?�

�

�Setelah kupikir-pikir, Kak Victor tentunya tidak ingin aku terus menerus di sampingnya.�Selain itu, besok aku juga harus pergi ke sekolah.�

�

Aku-pun tersenyum.

�

�Tetapi Rauny, aku tetap yakin Kak Victor bisa pulih !�Kak Victor sangat kuat, tidak mungkin lumpuh hanya akibat kecelakaan seperti ini !�

�

�Ya, aku juga merasa demikian.�

�

�

�

�Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya...�

�

Perlahan aku membuka mataku.�Di dalam kegelapan, terlihat bayangan seseorang yang sedang memangku kepalaku.�Ia berkata dengan lembut, �Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.�Kembalilah tidur..�

�

Mendengar kata-kata orang tersebut, entah mengapa perasaanku menjadi sangat tenang.�Aku-pun kembali memejamkan mata, sementara orang itu melanjutkan lagi lagunya...

�

�Merah, kuning, kelabu, hijau muda dan biru.

�

Meletus balon hijau� DHUAR !�Hatiku sangat...�, perlahan nyanyian itu tidak terdengar lagi, karena aku semakin lelap.

�

�Siapa orang itu ?�Mengapa aku merasa sangat rindu pada nyanyian itu ?�

�

Tiba-tiba aku merasakan panas yang teramat sangat dari dalam tubuhku; Seakan tubuhku terbakar.�Aku ingin menjerit, tetapi tidak ada suara yang keluar.�Dan di sekelilingku tiba-tiba muncullah api, sementara suara itu kembali terdengar, �Apa kamu kepanasan, Rani ?�Dulu aku juga mengalami hal yang sama.�Rasanya panas sekali, dan benar-benar menyakitkan !�Kenapa Rani, kenapa kamu melakukan �hal itu� padaku ?!�

�

Perlahan, terlihat sesosok tubuh berdiri di antara api yang menyala; Seperti seorang anak kecil.�Aku berusaha melihat wajahnya, dan sangat terkejut ketika berhasil melihatnya.�Anak itu adalah diriku, ketika masih kecil !�Dan, aku-pun terbangun.

�

�

�

Ketika hari sudah pagi, ibu terkejut melihatku sudah bangun.

�

�Tumben sekali, pagi ini kamu tidak telat bangun, Rauny.�Ada apa nih ?�

�

Dengan menggerutu aku berkata, �Bukannya mama sendiri yang minta supaya aku nggak telat bangun lagi ?�Kok sekarang ngomongnya gitu sich ?�

�

Ibuku hanya tersenyum, �Memang iya, cuma tetap aja rasanya aneh.�Tapi baguslah kalau kamu udah bisa bangun pagi.�

�

�Iya, iya.�, lalu aku mengambil tas sambil berkata, �Aku pergi dulu, Ma !�

�

Ketika sampai di persimpangan tempat terjadinya kecelakaan itu, aku meminggirkan sepedaku.

�

�Gimana keadaan Kak Victor ya ?�Apa sudah sadar ?�

�

Untuk sesaat, aku teringat kembali ketika tubuhku tidak dapat bergerak, sementara mobil van itu melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku.

�

�Aku tidak tahu, apakah aku �Rauny� yang dikenal oleh mereka atau tidak, tetapi aku tetap berhutang nyawa kepada Kak Victor.�Aku ingin mengucapkan terima kasih, kalau ia sadar nanti.�

�

Tiba-tiba aku merasa suatu perasaan aneh.�Ketika melihat ke seberang jalan, terlihat seorang gadis sedang memperhatikanku; Yang benar-benar membuatku terkejut, wajah gadis itu sama denganku !�Ketika sadar bahwa aku melihatnya, ia segera memalingkan muka dan pergi.�Tetapi aku sempat melihat bahwa sisi kiri wajahnya ada bekas luka terbakar.�Aku berusaha mengejarnya, tetapi ia menghilang dengan cepat di antara orang-orang yang lalu lalang.

�Gadis itu.. berwajah sama denganku.�Tetapi ia bukan aku; Wajah kirinya terbakar.

Siapa dia sebenarnya ?�

�Begitulah.�Bagaimana pendapatmu, Mira ?�

Aku baru saja selesai menceritakan kejadian pagi tadi kepada Mira.�Mira memandangku sambil bertanya, �Apa kamu punya kembaran ?�

�Eh, kembaran ?�Entahlah.�Kamu khan tahu, kalau aku amnesia.�Tetapi...�, Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu secara samar; Mengenai seorang gadis kecil yang selalu bersamaku, dan selalu memanggilku, �Rani...�

�Rauny, hey Rauny, apa kamu baik-baik saja ?�Kok kamu tiba-tiba bengong ?�

�A.. ah, Mira ?�, lalu aku tersenyum, �Yah, mungkin juga dulu aku punya kembaran.�Tadi tiba-tiba saja aku sedikit teringat sesuatu.�


�Oh ya ?�Baguslah kalau kamu mulai bisa mengingat masa lalumu.�

Mendengar kata-kata Mira, aku hanya terdiam.

�

�Mungkin memang bagus.�Tetapi entah mengapa, aku selalu merasa... lebih baik jika aku tetap tidak ingat apapun mengenai masa laluku.�

�

Tiba-tiba bel sekolah berdering.

�

�

�

Ketika pulang sekolah, aku berencana untuk kembali mengunjungi Rumah Sakit Umum Pusat.

�

�Rauny, tunggu !�

�

Aku menengok; Ternyata Mira berlari menyusulku.

�

�Apa kamu ingin menjenguk laki-laki itu lagi ?�

�

�Iya.�Kenapa ?�

�

�Boleh khan aku menemanimu ?�Kemarin kita hanya menunggu di luar, jadi aku tidak sempat melihat penolongmu itu.�Juga, aku ingin bilang pada adiknya, kalau kamu sebenarnya tidak bersalah !�

�

Aku tersenyum, �Terima kasih, Mira.�Aku senang sekali kamu mau menemaniku.�

�

Dan kami-pun bersama-sama pergi.�Ketika kami masuk ke kamar tempat Victor dirawat, ternyata Helen sudah ada disana.

�

�Helen, cepat sekali kamu datang.�

�

�Oh, rupanya kamu Rauny.�

�

�Keebtulan kali ini ada temanku yang ikut.�Perkenalkan, ini...�, kata-kataku terputus, karena wajah Mira tampak terkejut melihat Helen.

�

�Kamu.. Helen ?�, tanya Mira.

�

Helen juga terkejut, �Mira ?�Benarkah ini kamu ?�

�

Aku hanya terdiam karena bingung.

�

�Apa mereka sudah saling kenal ?�

�

�Ini.. benar-benar keajaiban !�Tak kusangka, akibat kecelakaan ini, kita bisa berkumpul lagi.�

�

Tiba-tiba Mira menyadari sesuatu, �Tu.. tunggu !�Kalau begitu, berarti yang kecelakaan itu...�

�

Helen mengangguk dengan sedih, �Iya, yang mengalami kecelakaan itu Kak Victor.�

�

Wajah Mira langsung berubah pucat.�Ia segera melihat ke arah Victor yang sedang terbaring di ranjang.

�

�Kak Victor, tak kusangka kita bertemu lagi dalam keadaan seperti ini.�

�

Aku yang dari tadi hanya memperhatikan mereka, akhirnya memutuskan untuk membuka mulut.

�

�Helen, apakah Mira juga sebenarnya.. anak dari panti asuhan milik ayah Kak Victor ?�

�

Untuk sesaat, Helen memandangku dengan bingung.�Lalu ia menarik nafas.

�

�Oh ya aku lupa, kamu mengalami amnesia.�Memang benar.�, lalu ia menengok ke arah Mira, �Tetapi Mira, kamu seharusnya membantu Rauny untuk mengingat kembali masa lalunya dong !�

�

Mira memandang Helen dengan bingung, �Eh, apa maksudmu ?�

�

�Rauny mengalami amnesia akibat kebakaran waktu itu.�

�

Wajah Mira semakin tampak kebingungan, �A..aku.. benar-benar tak mengerti maksudmu, Helen.�

�

�Ya ampun, Mira !�Itu lho, kebakaran yang menghancurkan panti asuhan kita !�Padahal waktu itu, kupikir Rauny sudah meninggal di tengah kobaran api, tetapi untung dia masih selamat.�

�

�Tu.. tunggu !�Rauny.. di tengah kobaran api ?�Apa kamu tidak salah, Helen ?�

�

Mendengar kata-kata Mira, giliran Helen yang bingung, �Eh ?�Salah apanya ?!�

�

�Bukankah yang waktu itu meninggal di tengah kobaran api adalah Rani ?�

�

DEG !�Aku sangat terkejut ketika nama itu disebut oleh Mira.�Tetapi sebelum ada yang kembali membuka mulut, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah ranjang.�Sepertinya Victor sudah mulai sadar !

�

�Kak Victor !�, Helen segera mendekat ke arah Victor.

�

Lalu ia menengok ke arah Mira sambil berkata, �Nanti saja kita lanjutkan percakapan ini.�Sekarang lebih baik kita memanggil dokter.�, lalu ia berpaling padaku, �Rauny, tolong jaga kakak ya ?�

�

Aku mengangguk, dan mereka-pun berlari keluar kamar.

�

�

�

Aku memandang ke arah Victor dengan setengah termenung.

�

�Rani.. lagi-lagi aku mendengar nama itu.�Siapa dia sebenarnya ?�

�

Tiba-tiba mata Victor terbuka, dan ia melihat ke arahku.�Bibirnya bergerak-gerak seakan hendak mengatakan sesuatu.�Maka aku-pun mendekatkan telingaku ke bibirnya.

�

�Ka..mu...�

�

�Aku Rauny, orang yang telah kakak tolong.�

�

Victor menggeleng dengan lemah, �Kamu.. Ra..ni...�

�

Aku terkejut ketika mendengar nama itu lagi.�Aku memperhatikan Victor selama beberapa saat, lalu mencoba mendekatkan telingaku ke bibirnya lagi.

�

�Rani, mengapa kamu berusaha melupakan keberadaanku ?!�

�

Kali ini aku terpekik dan melompat mundur; Suara itu bukanlah suara Victor, melainkan suara yang selalu kudengar dalam pikiranku.�Dan ketika melihat ke arah ranjang, yang kulihat sedang terbaring di sana bukanlah Victor, melainkan gadis yang berwajah sama denganku, yang kulihat di jalan pagi tadi !�Dengan sisi kiri wajahnya bekas terbakar, gadis itu menatapku dengan sangat tajam; Seakan marah bercampur rasa sedih menjadi satu dalam tatapannya itu.

�

�Siapa.. siapa kamu sebenarnya ?!�, suaraku berubah menjadi jeritan ketika menanyakan itu.

�

Akhirnya aku berlari keluar kamar.�Tepat ketika aku membuka pintu, aku menabrak seseorang, yang rupanya Helen yang baru kembali dari memanggil dokter.

�

�Hey Rauny, ada apa ?�

�

Aku memandang Helen sekilas, lalu beralih ke Mira.�Untuk sesaat, aku kembali teringat kata-kata Mira, �Bukankah yang waktu itu meninggal di tengah kobaran api adalah Rani ?�

�

Aku menggelengkan kepala keras-keras, lalu berlari meninggalkan mereka.

�

�

�

Keluar dari rumah sakit, aku terus saja berlari; Seakan ada sesuatu yang memaksa kakiku untuk terus berlari, walau aku tidak tahu pergi ke arah mana.�Ketika berhenti, ternyata aku sudah berada di sebuah bekas gudang yang terbakar, yang terletak di sebuah tanah kosong yang luas.

�

�Aneh !�Aku belum pernah datang ke sini, tetapi mengapa aku merasa mengetahui tempat ini ?

�

Selain itu.. mengapa aku merasa sangat takut ?�

�

Perlahan aku berjalan di antara reruntuhan gudang, sambil berusaha mencari sesuatu yang mungkin masih tersisa dari kebakaran.�Semakin jauh aku melangkah, semakin keras getaran pada diriku.

�

�Apa lebih baik aku pergi saja ?�Tempat ini.. benar-benar menakutkan !�

�

Baru saja aku berbalik hendak pergi, ketika tiba-tiba sebuah kilauan di antara puing-puing menarik perhatianku.�Aku-pun mendekat, dan ternyata kilauan tersebut akibat pantulan cahaya dari sebuah liontin yang tergeletak di tanah.�Ketika melihat liontin itu, tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit luar biasa.�Aku jatuh terduduk, lalu memegang kepalaku, dan berusaha untuk menahan rasa sakit itu.�Setelah berhasil, aku kembali memandang liontin tersebut.

�

�Liontin apakah itu ?�Mengapa kepalaku tiba-tiba terasa sakit.. setelah melihatnya ?�

�

Dengan tangan gemetar, aku mengambil liontin tersebut.�Setelah memperhatikannya dari dekat, aku baru menyadari ternyata ada sebuah ukiran yang sangat indah yang menghias permukaan liontin itu; Ukiran seorang malaikat yang memegang tongkat, dengan sayap sebelah.�Kemudian aku menyadari ada sebuah tuas kecil pada bagian pinggir liontin itu, dan aku menekannya.�Liontin itu terbuka, dan pada bagian dalamnya, terdapat sebuah foto yang sangat kuno.�Ketika melihat foto itu, aku sangat terkejut; Itu adalah foto diriku ketika masih kecil, bersama dengan seorang gadis kecil lain yang berwajah sama persis dengan diriku !

�

�

�

Seketika itu pula, kepalaku terasa mau pecah.�Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, ingatan akan masa laluku mulai kembali.

�

�Rani, main sama-sama yuk ?�

�

�Tenang saja, aku akan selalu bersamamu, Rani.�

�

�Aku takkan membiarkan kamu sendirian, karena kamu adik kembar yang paling kusayangi.�

�

Dengan terhuyung-huyung, aku berusaha mencari pegangan agar tubuhku tidak terjatuh.

�

�Adik.. kembar ?�Aku.. Rani, dan aku.. adik kembar.. Rauny ?

�

Tidak mungkin !�Tetapi...�

�

Akhirnya aku hanya terduduk lemas di antara reruntuhan gudang tersebut.�Ingatanku akan apa yang terjadi di bekas gudang yang terbakar ini sudah kembali, dan aku hanya bisa menutup wajahku.

�

Walau aku dan Rauny saudara kembar, tetapi sifat kami sangat berbeda, bagai langit dengan bumi.�Rauny yang lincah dan selalu penuh semangat, sedangkan aku sangat pemalu dan tertutup.�Aku selalu berpikir, andai aku bisa seperti Rauny.�Lincah, ceria, dan disukai oleh teman-teman.�Dan tanpa kusadari, akhirnya tumbuh rasa iri yang tak dapat kutahan.�Aku menjadi bertanya-tanya, mengapa hanya Rauny yang disukai, padahal kami anak kembar ?!

�

Pada suatu hari, ketika sedang main sendirian seperti biasa, aku menemukan sebuah gudang yang tidak terpakai, yang terletak tak jauh dari tempat tinggal kami.�Saat itu timbul sebuah idea dalam benakku, bagaimana jika aku mengurung Rauny dalam gudang ini, sementara aku menjadi Rauny selama sehari saja.�Ya, aku ingin sekali bisa bermain bersama teman yang lain, walau harus menjadi orang lain !

�

Dan aku-pun mengajak Rauny ke gudang ini.�Dengan mengatakan ada suara-suara aneh dari dalam gudang, sementara aku takut mencari tahu, aku minta Rauny untuk masuk.�Tetapi Rauny minta agar aku menemaninya, karena katanya ia juga takut.�Dengan terpaksa, aku menemaninya, lalu kami-pun bersama-sama masuk.

�Kalau saja waktu itu aku tidak ikut masuk bersamanya...�

Ketika aku hendak melarikan diri, Rauny tahu akan rencanaku.�Kami-pun berkelahi di dalam gudang, dan lilin yang dipegang oleh Rauny terjatuh !�Api mulai berkobar, dan Rauny terjebak di tengah api.�Aku mencoba untuk menolongnya, tetapi tidak bisa.�Lalu aku berusaha mencari bantuan, tetapi begitu aku keluar dari gudang, gudang tersebut meledak.�Aku hanya bisa terduduk lemas, sampai Kak Victor dan ayahnya datang.�Aku benar-benar ketakutan, sehingga ketika Kak Victor bertanya, aku hanya bisa menjawab, Rani terjebak di dalam gudang.�Dan aku tak pernah berani mengaku, bahwa aku adalah Rani yang asli.

�Rauny, maafkan aku...�

Tiba-tiba terdengar suara, �Akhirnya kamu kembali ingat padaku, Rani.�

Aku terkejut dan menengok; Gadis berwajah sama denganku, dengan sisi kiri wajahnya bekas terbakar, sedang memandang ke arahku.

�Rauny !�Jadi kamu.. masih hidup ?�Kamu selamat dari kebakaran itu ?�Kenapa kamu tidak pernah muncul lagi dihadapan kami ?�

Rauny memandangku dalam-dalam selama beberapa saat, lalu berkata, �Sepertinya, kamu belum ingat seluruhnya.�Aku memang selamat dari kebakaran di gudang ini.�Itu sebabnya pada hari itu, aku mendatangimu di panti asuhan untuk menanyakan mengapa kamu melakukan hal itu padaku.�Tetapi kamu malah berkata kalau kamu adalah Rauny, dan kamu tidak mengenalku.�Akhirnya kejadian itu kembali terulang; Kita bertengkar, dan lilin terjatuh sehingga panti terbakar.�Aku... meninggal dalam kebakaran yang kedua itu.�

�

�Kamu.. benar-benar sudah meninggal ?�Lalu..�, tanpa kusadari, sekujur tubuhku gemetar, �.. kenapa kamu bisa ada dihadapanku ?!�

�

Rauny tidak menjawab, tetapi ia berjalan mendekat ke arahku.

�

�Ti.. tidak, jangan mendekat !�

�

Aku terus berjalan mundur, sementara Rauny tetap mendekatiku.�Akhirnya kakiku tersandung dan aku terjatuh.�Dan Rauny juga terjatuh ke atas tubuhku.�Pada saat itulah, tubuh Rauny hancur, dan tinggal tulang belulang saja !�Aku menjerit, lalu segalanya menjadi gelap...

�

�

�

Beberapa hari kemudian

�

Di taman rumah sakit tempat Victor dirawat, terlihat Helen sedang mendorong kursi roda dimana Victor sedang duduk, sementara Mira berjalan di samping mereka.�Kicau burung membuat suasana taman itu terasa sangat nyaman.�Sebuah tiupan angin menyebabkan Helen memalingkan wajahnya.�Pada saat itulah terlihat olehnya, tak jauh dari mereka, ada seorang suster yang sedang memberikan sebuah balon berwarna hijau kepada seorang anak kecil yang sedang duduk di bangku taman.�Melihat itu, Helen-pun tersenyum.

�

�Kak Victor, apa kakak masih ingat, dulu ketika kami masih kecil, kakak sering menyanyikan lagu Balonku sebagai lagu pengantar tidur kami ?�

�

Victor juga melihat ke arah anak laki-laki yang sedang memegang balon tersebut.�Lalu ia menghela nafas panjang.

�

�Ya, aku masih ingat.�Mungkin kalian tidak tahu, tetapi lagu itu mempunyai arti penting bagiku.�

�

�Eh ?�, baik Helen maupun Mira sama-sama terkejut, �Maksud kakak ?�

�

�Apa kalian masih ingat, balon itu berwarna apa saja ?�

�

Sambil menaruh jarinya di bibir, Mira berusaha mengingat.

�

�Kalau tidak salah, warnanya antara lain merah, kuning, hijau, biru, ungu...�

�

Dengan cepat Helen protes, �Yang terakhir salah !�Itu kelabu.�

�

�Ya begitulah.�Helen, kamu yang selalu penuh semangat, aktif dan suka berolahraga, sama seperti balon berwarna merah yang dinamis.�Lalu Mira yang sabar dan penuh pengertian, seperti balon berwarna biru.�

�

Mendengar itu, Helen dan Mira saling berpandangan.�Sementara Victor melanjutkan.

�

�Lukas yang aneh dan misterius, seperti balon berwarna abu-abu yang sulit ditebak.�Rauny yang lincah, ceria dan penuh kehangatan, seperti balon berwarna kuning.�Lalu terakhir...�, untuk sesaat, Victor terdiam.

�

Mira langsung bertanya, �Berarti, Rani dilambangkan dengan warna hijau ?�

�

Victor mengangguk.

�

�Benar.�Rani yang penyendiri dan juga pencemburu, dilambangkan dengan balon hijau.�Dan kalian pasti ingat, balon berwarna hijau-lah yang meletus.�

�

�I.. iya, sepertinya begitu.�

�

�Dalam ledakan di gudang yang terletak tak jauh dari tempat kita tinggal, Rani terperangkap di dalamnya.�Mungkin kalian sudah lupa, karena kalian masih kecil.�Itulah sebabnya, aku selalu menyanyikan lagu Balonku dengan perasaan sedih, karena lirik dalam lagu tersebut selalu mengingatkanku akan Rani yang telah meninggal.�

�

Victor terdiam sesaat, dan hanya suara angin yang terdengar.

�

�Tetapi akhirnya aku sadar, bahwa aku salah.�

�

�Eh ?�, Baik Helen maupun Mira kembali terkejut.

�

�Yang meninggal dalam ledakan itu, sebenarnya adalah Rauny, dan �Rauny� yang selama ini kita kenal, sebenarnya adalah Rani.�

�

Mira melangkah mundur sambil menutup mulutnya, �Ti.. tidak mungkin !�

�

�Mungkin Rani merasa bersalah, dan karena takut, ia mengaku sebagai Rauny.�Aku mengetahuinya secara tidak sengaja; Ketika hendak memanggil Rauny pada suatu hari, aku melihat �Rauny� sedang duduk menyendiri di kamarnya, melihat keluar jendela.�Itu adalah kebiasaan Rani, tidak mungkin Rauny yang selalu ceria tiba-tiba menjadi pemurung seperti itu.�Karena curiga, maka aku kembali memeriksa tempat terjadinya ledakan itu.�Dan aku semakin yakin, setelah melihat sebuah liontin yang biasa dipakai Rauny, berada di antara reruntuhan.�

�Ja.. jadi, Rauny temanku itu...�, Mira tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Victor menarik nafas dalam-dalam, �Mungkin, aku salah telah membiarkan Rani menjadi �Rauny�.�Sekarang, semuanya sudah terlambat.�

Sementara itu, di sebuah ruangan kecil yang tertutup rapat, aku sedang duduk di pojok ruangan.�Kepalaku terasa pusing, dan suara-suara asing terdengar bergantian dalam pikiranku.

�Aku.. Rani.�, lalu aku menggeleng keras-keras, �Bukan, bukan !�Aku adalah Rauny !�

Lalu aku berkata lagi, �Tetapi Rauny sudah mati.�Berarti aku Rani khan ?�

Untuk kedua kalinya aku menggeleng, dan berkata, �Aku Rauny !�Siapa ituRani ? !�

Entah mengapa, aku merasa sangat lelah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar